Ada saatnya, ada tempatnya
Berwacana memang nikmat
Tapi tidak lebih nikmat
Dari mendapat hasil ketika selesai praktik
Meskipun berupa keringat
Berwacana memang nikmat
Hanya saat di tempat dan waktunya
Tapi tersiksa dan sama sekali tak nikmat
Saat berpraktik sambil berwacana
Karena berwacana bukanlah disaat praktik
Saat praktik harus dinikmati
Dinikmati sama halnya dibuat focus
Saat berwacana pun harus dinikmati
Menikmati wacana sama halnya bersungguh untuk praktik
”jangan bicara soal idealisme ”, ini adalah petikan lagu Iwan Fals. Sungguh membuat kesan yang dalam bagiku. Idealis adalah ketika kita meninggikan cita-cita. Idealis adalah juga ketika kita berbicara masa depan secara hampir paripurna.
Ketika idealisme hanya menjadi bahan pembicaraan, tapi miskin praktek. Inilah makna yang terkandung dari lirik lagu Iwan Fals diatas. Hanya berbicara idealisme tanpa usaha memperjuangkannya sama halnya dengan berkhayal.
Menyenangkan memang bagi siapa pun yang berkhayal. Tak heran bila berkhayal menjadi paforit orang-orang yang sedang dirundung penat dan kegagalan. Karena pada saat itu berkhayal mampu menerbangkan sejenak pikiran mereka menjauhi realitas.
Berkhayal juga menjadi paforit orang tertindas, dan teraniaya. Karena mereka selalu merasa rendah diri dan merasa lemah. Berbeda dengan orang yang teraniaya lantas ia sadar bahwa keteraniayaannya adalah akibat dari rasa lemah dirinya, maka ia akan bangkit mengubah rasa lemah menjadi rasa kuat, rasa tidak percaya diri menjadi rasa penuh percaya diri. Dengan itu maka perlawanan terjadi.
Dan hanya dengan melawan, seseorang memperoleh kemanusiaannya. Dengan melawn pula kemerdekaan menjadi suatu hal yang tidak mustahil. Dengan melawan kita dapat mengubah sesuatu. Karena melawan berarti juga berbuat.
Melawan siapa? Melawan rasa lemah diri, melawan kemalasan, melawan dinding-dinding hidup yang membuat kita nyaman dan terbuai kenyataan-kenyataan semu, melawan kebiasaan berkhayal yang membius kita untuk tidak berbuat apa-apa.
He....he...he!
Senin, 20 April 2009
Jumat, 17 April 2009
terang berang

Terus terang
aku sedang berang
melihat parang-parang terserang
saat ini
saat macan tak punya taring
saat kelingking dibatu gamping
aku punya mulut
yang sedang berang
aku punya tarang yang kerung
aku punya kaki yang kejang
ingin berlari
saat dimana aku sedang
tapi tak ada orang yang
mau diajak berperang
padahal perang sedang
akhirnya aku mengerang
teriak seorang
akhirnya aku berterus terang
sedang berang
aku lancang meneriakan keberanganku
hatiku bagai kerang saat berang
keur maraneh

Keur maraneh PENGURUS MAHAPEKA.....
Aing sedih MAHAPEKA Umurna geus 25 taun......
Aing sedih MAHAPEKA ngan kitu keneh - kitu keneh........
Aing sedih MAHAPEKA Beuki loba anggotana....
Aing sedih MAHAPEKA Teu loba prestasina....
Aing sedih MAHAPEKA Loba nu jadi anggota nu nebeng beken....
Aing sedih MAHAPEKA Naha Pengurus Teu saladar kana kanyataan ieu....
Na maraneh teu nyaho...MAHAPEKA teh organisasi pang kolotna di IAIN/UIN SGD????????????
Membaca Tanda-tanda
ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan
meluncur lewat sela-sela jari
ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi, kini kita telah mulai merindukannya
kita saksikan udara abu-abu warnanya
kita saksikan air danau yang semakin surut tampaknya
burung-burung kecil tak lagi berkicau di pagi hari
hutan kehilangan ranting
ranting kehilangan daun
daun kehilangan dahan
dahan kehilangan hutan
kita saksikan gunung memompa abu
abu membawa batu
batu membawa lindu
lindu membawa longsor
longsor membawa banjir
banjir membawa air
air mata
kita telah saksikan seribu tanda-tanda
bisakah kita membaca tanda-tanda
Langganan:
Komentar (Atom)
